Tantangan produktivitas riset dan publikasi ilmiah di perguruan tinggi swasta kini menemukan momentum akselerasi baru melalui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Bertempat di Aroem Resto & Cafe, Bekasi, Jawa Barat, forum Round Table bertajuk “AI in Academics: Mengakselerasi Riset dan Inovasi Perguruan Tinggi” sukses diselenggarakan atas kolaborasi strategis antara Eudeka (Google for Education Partner), Google, Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah Jawa Barat, dan Politeknik Bhakti Kartini.
Pertemuan eksklusif berformat meja bundar ini mempertemukan jajaran pimpinan perguruan tinggi swasta se-Jawa Barat—mulai dari rektor, direktur politeknik, ketua yayasan, hingga pengelola Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)—guna mendiskusikan langkah konkret integrasi AI dalam workflow akademik dan tata kelola institusi.

Suasana pertemuan meja bundar pimpinan perguruan tinggi anggota APTISI Jawa Barat bersama tim Eudeka dan Google di Bekasi.
Solusi Konkret: Pengelolaan Proposal Riset Berbasis Google NotebookLM
Salah satu beban administratif paling menyita waktu bagi dosen dan peneliti di kampus adalah sintesis literatur, penyelarasan format hibah penelitian, dan perumusan proposal riset. Sering kali, penggunaan tools AI generatif konvensional memicu kekhawatiran terkait akurasi (halusinasi AI) serta keamanan kekayaan intelektual naskah akademik.
Dalam sesi pemaparan teknis, tim Eudeka mendemonstrasikan kapabilitas Google NotebookLM sebagai grounded AI research assistant. Berbeda dari chatbot umum, NotebookLM bekerja tertutup di atas korpus dokumen yang diunggah oleh peneliti sendiri—seperti kumpulan jurnal, pedoman hibah Dikti, data primer penelitian, dan laporan kemajuan.

Pemaparan implementasi Ekosistem Google Gemini untuk efisiensi riset akademik.
Melalui pendekatan source-grounded, para akademisi dapat:
1. Membedah Ratusan Referensi Paper Cepat & Presisi: Menyusun tinjauan pustaka (literature review) dengan sitasi otomatis yang langsung merujuk ke halaman dokumen sumber.
2. Menyelaraskan Kepatuhan Format Hibah: Memastikan setiap bagian proposal sesuai dengan matriks penilaian skema hibah riset nasional maupun internasional.
3. Privasi & Keamanan Data Akademik Terjamin: Dokumen riset institusi tidak digunakan untuk melatih model publik Google, menjaga kerahasiaan paten dan draf publikasi dosen.
Kihajar.id: Wadah Institusional Kampus Mengakselerasi AI
Tidak berhenti pada pemanfaatan alat di tingkat individu dosen, forum ini juga menyoroti kebutuhan platform terintegrasi di level institusi. Eudeka secara khusus memperkenalkan Kihajar.id sebagai wadah strategis bagi perguruan tinggi untuk mengelola akselerasi AI kampus secara terstruktur.

Pimpinan Bhakti Kartini antusias berdiskusi mengenai implementasi tata kelola kecerdasan buatan di tingkat program studi dan universitas.
Kihajar.id hadir menjawab tiga kebutuhan krusial kampus modern:
– Governance & Policy Kesiapan AI: Menjadi panduan tata kelola etika AI di lingkungan akademik, melindungi integritas penilaian karya ilmiah mahasiswa dan dosen.
– Peningkatan Kapasitas SDM Dosen: Program terstruktur pendampingan literasi AI berbasis kompetensi terapan bagi tenaga pengajar dan staf riset.
– Ekosistem Terhubung Google for Education: Mengintegrasikan lisensi resmi Google Workspace for Education, Gemini Education, hingga Chromebook untuk riset yang efisien dan terukur secara biaya operasional institusi.
Komitmen Bersama Mendorong Daya Saing Pendidikan Tinggi
Perwakilan pimpinan APTISI Wilayah Jawa Barat dan Politeknik Bhakti Kartini menyambut positif inisiatif ini. Diskusi meja bundar mencerminkan kebutuhan mendesak kampus-kampus swasta untuk bergerak serempak: mengadopsi efisiensi teknologi tanpa kehilangan marwah akademik.

Foto bersama jajaran inisiator: Eudeka, APTISI Wilayah Jawa Barat, dan Google.
Melalui sinergi berkelanjutan antara APTISI Jawa Barat, Politeknik Bhakti Kartini, Google, dan Eudeka, inisiatif AI in Academics diharapkan segera bergulir menjadi program pendampingan nyata di berbagai kampus di Jawa Barat, menjadikan riset nasional lebih kompetitif, aplikatif, dan berdampak luas bagi industri dan masyarakat.


